Sabtu, 11 Agustus 2012

Buah Sedekah, Aku Dilamar 3 Pemuda Sekaligus


keajaiban sedekah





Memiliki banyak harta seringkali tak membuat
seseorang mensyukuri dengan apa yang didapat. Justru, memiliki banyak harta
membuat orang tersebut merasa kurang dan kekurangan. Aneh memang. Namun,
tahukah Anda bahwa sebenarnya hal tersebut dikarenakan kurangnya bersedekah?
Sebuah kisah menarik berikut ini dikirimkan oleh seorang sahabat kami yang
menceritakan pengalamannya tentang keistimewaan dari bersedekah. Semoga
terinspirasi.





-----------





Aku wanita berumur 30 tahun. Di usia yang
cukup matang, aku belum saja berkeluarga. Padahal, pencapaian karirku bisa
dikatakan luar biasa. Aku menjabat sebagai manajer di sebuah perusahaan perbankan
yang cukup ternama. Masalah wajah dan penampilan, Insyaallah aku tak kurang.
Dengan tubuh proporsional, kulit kuning, wajah ayu dibalut jilbab, kurasa aku
pantas diperebutkan. Banyak omong kosong berucap bahwa hal yang demikian
membuat para lelaki yang ingin mendekatiku menjadi minder. Tentu saja aku tak
percaya. Bagaimana mungkin hal tersebut membuat para lelaki menjadi minder
untuk mendekatiku. Benar-benar tak masuk akal.





Selain bekerja, aku rutin mengikuti majelis
taklim yang diadakan tiap satu minggu sekali. Di sana, aku diajarkan untuk
membiasakan diri agar bersedekah. Katanya, Allah akan membalas dan
melipatgandakan harta yang disedekahkan dengan balasan yang berlipat-lipat.
Jujur saja, aku tidak begitu mengharapkannya, karena tujuan bersedekah untukku
adalah murni berbagi. Dan lagi, dengan materi yang kuperoleh dari kerja
kerasku, insyaallah aku masih bisa hidup lebih dari kata sederhana.





Hingga saat itu tiba. Aku melihat sebuah
masjid di daerah Malang dalam tahap pembangunan. Sebuah tulisan cukup unik
membuatku turun dari mobil dan mendekati seseorang yang tengah duduk di depan
masjid. Di depan masjid itu tertulis, "Masjid dijual" bayangkan saja,
masjid yang bisa dikatakan adalah rumah Allah, diperjualbelikan dengan
mudahnya?





Kuhampiri seorang lelaki kebapakan, kutanyakan
maksud dari tulisan tersebut. Ternyata, maksud kalimat tersebut adalah
'menjual' bagian dari masjid untuk diwakafkan. Istilah singkatnya, kita
'diminta' keikhlasannya untuk bersedekah untuk pembangunan masjid tersebut.
Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan yang
ada di dompet. Keberikan pada bapak tersebut, kutitipkan salam dan doaku, aku minta
agar jodohku datang di saat yang tepat. Sebelumnya, aku sempat mendengar sebuah
kalimat ustadz di majelis taklim mengucapkan bahwa bersedekah dapat mempercepat
datangnya jodoh. Dan, aku ingin membuktikannya.





Bukan sulap bukan sihir. Tahukah kalian apa
yang terjadi satu bulan berikutnya? Tak cukup satu orang pemuda datang ke rumah
untuk melamarku, melainkan tiga pemuda sekaligus. Bayangkan, tiga pemuda
tersebut tak hanya santun perangainya, tapi juga tampan. Subhanallah, terus
terang saja, aku cukup kerepotan untuk memilih. Hingga akhirnya kuputuskan
memilih satu di antara ketiganya yang paling terbaik.





Namanya Husein. Ia seorang pegawai swasta
merangkap guru mengaji di kantornya. Setiap sore, ia memberikan waktu luang dan
kesempatan bagi teman, bahkan atasannya untuk belajar mengaji padanya.
Subhanallah, aku benar-benar merasakan buah sedekah. Bahwa, tak akan ada
kesulitan di balik kebiasaan rutin bersedekah. Bersedekah tidak membuat miskin,
tetapi justru mengayakan. Allah... aku tak takut miskin hanya dengan
bersedekah. Selagi aku bisa, berbagi adalah mulia.


ads

Ditulis Oleh : OKE Hari: 05.00 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar